Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts

Wewe Gombel

Orang tua kita dulu selalu melarang anaknya keluar rumah di waktu senja menjelang magrib karena takut anaknya diculik kalong wewe. kalo yang udah pernah baca buku dialog dengan jin muslim disebutkan pula bahwa waktu yang disenangi jin itu adalah perpindahan dari terang ke gelap (termasuk waktu magrib) dan pertemuan arus panas dan arus dingin (salah satunya di segitiga bermuda).

Wewe Gombel adalah sebuah istilah dalam tradisi Jawa yang berarti roh jahat atau hantu yang suka menculik anak-anak, tapi tidak mencelakainya. Konon anak yang dicuri biasanya anak-anak yang ditelantarkan dan diabaikan oleh orang tuanya. Wewe Gombel biasanya akan menakut-nakuti orang tua si anak atas sikap dan perlakuannya kepada anaknya sampai mereka sadar. bila mereka telah sadar, Wewe Gombel akan mengembalikan anaknya.

Latar belakang mitos
Menurut cerita, mitos Wewe Gombel dipercayai digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak agar mereka tidak berkeliaran di waktu malam hari. Ini disebabkan pada masa lalu, keadaan gelap gulita amat berbahaya karena hewan buas mungkin memasuki kawasan perkampungan dalam kegelapan malam. Dengan itu Wewe Gombel diciptakan untuk menyelamatkan mereka daripada ancaman tersebut. Wewe Gombel biasanya digambarkan dengan sosok wanita tua keriput dengan susu/payudara yang terlihat keluar panjang menjijikkan.

Hj. Tursiyati Prihatin Tingginya Pengangguran di Purworejo

Terkesan trengginas, energik dan proaktif. Inilah yang nampak pada diri Hj Tursiyati, Sekretaris Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purworejo dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Walau berperawakan kecil, namun sangat besar pemikirannya untuk berjuang demi kepentingan rakyat. Bahkan semangatnya sangat besar untuk mendobrak angka pengangguran di Kabupaten Purworejo yang memang cukup tinggi.

“Pada prinsipnya yang namanya kesejahteraan, tolok ukurnya adalah kemiskinan dan pengangguran. Kalau kemiskinan memang sulit dipecahkan, tapi kalau pengangguran itu ada solusinya,“kata Hj Tursiyati ketika ditemui diruang kerjanya di DPRD Purworejo, Senin (19/12).

Masih tingginya angka pengangguran, menurut wanita kelahiran di Purworejo 4 Desember 1969, sangat memerlukan upaya kerjasama secara sinergi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kesejahteraan Sosial. Selama ini pihak sekolah sudah secara langsung menjalin kerjasama dengan perusahaan. “Jadi kerjasama langsung antara sekolah dan perusahaan ini nampaknya sudah terpola. Untuk itu kerjasama kedua dinas tersebut harus dilakukan lebih baik lagi,”katanya.

Diungkapkan, jumlah angka pengangguran di Kabupaten Purworejo mencapai hampir 13 000, sementara tenaga yang terserap dalam satu tahun hanya mencapai 1000 tenaga kerja. “Ini jelas sangat memerlukan upaya pemerintah dan ada langkah kerjasama, baik melalui dinas terkait, sekolah  maupun dengan perusahaan,”kata Hj Tursiyati yang tinggal di Desa Ketawangrejo RT 003 RW 001 Grabag.

Menurut data per Nopember 2011 ada 9162 pencari kerja aktif ( membuat Kartu Kuning). Dari jumlah tersebut baru 2949 tenaga kerja yang dapat tersalurkan dengan pendidikan antara SD sampai S1. Untuk Angkatan Kerja Lokal (AKL) tersalur 273 orang yaitu ke daerah Semarang, dan untuk Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD) tersalur 2154 orang meliputi daerah Jabodetabek, Kalimantan, dan yang keluar negeri mencapai 522 orang.

Guna mengurai masalah tersebut diatas, ia berpendapat pemerintah perlu bertindak dan berperan aktif dalam pembangunan untuk menuju pembangunan perekonomian dengan upaya memberikan suatu pelayanan publik yang efisien, sistem peradilan yang dapat dipercaya dan sebuah administrasi pemerintah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Disamping itu, agar menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan pembangunan ekonomi dan memacu produktivitas serta mengembangkan SDM terutama melalui pendidikan keahlian teknis dan penguasaan teknologi, sehingga potensi penduduk menjadi optimal, untuk produksi menjadi optimal dan tidak menjadi konsumen semata.

Sebagai anggota DPRD, Hj Tursiyati berpendapat, kalau ingin mengurangi angka pengangguran maka harus bisa menciptakan lapangan kerja di Purworejo. Untuk itu, penting adanya pola/grand design investasi dan kerjasama antara investor, dinas terkait serta lembaga pendidikan terutama SMK. Pola investasi juga harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan daerah Purworejo, misalnya agrobisnis beserta dengan pabrik pengolahan, sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Sebagai wanita yang cukup konsen dengan dunia politik dan komitmen untuk pro rakyat, Hj Tursiyati yang bersuamikan H Raharjo SPdi, juga mempunyai riwayat organisasi maupun perjuangan yaitu sebagai Ketua Muslimat NU Kecamatan Grabag, Wakil Sekretaris DPC PKB Kecamatan Grabag. Aktif pula dalam kegiatan sosial, kepemudaan dan kegiatan sosial lainnya.

sumber : www.purworejokab.go.id

Kelik Susilo Ardani SE: Pembangunan Harus Melibatkan Pemuda

Politikus Partai Golkar yang masih tergolong muda ini pembawaannya kalem, namun punya wawasan yang luas. Dia adalah Kelik Susilo Ardani SE, yang masuk dijajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purworejo sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) dan duduk dikomisi B bidang pembangunan.

Kiprah pria kelahiran Purworejo 14 Agustus 1970 di dunia politik tidak diragukan lagi, sehingga berbagai pandangannya mampu memberikan warna politik yang sejajar dengan politikus senior lainnya. Ia berpendapat bahwa setiap gerak pembangunan di Purworejo harus melibatkan unsur kepemudaan.

“Pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan sebaiknya secara lebih khusus melibatkan bidang kepemudaan. Karena mau tidak mau pada saatnya pemuda akan sampai pada tataran ke level tinggi, “kata warga Sanggrahan RT.002 RW.003 Desa Tamansari Kecamatan Butuh ini.

Soal pelaksanaan pembangunan di Purworejo, ia melihat masih perlu dioptimalkan dan harus ada keseriusan antara pemerintah (eksekutif) dengan legislatif.  Selain itu juga harus ada kesinambungan, dimana masyarakat juga harus ikut langsung mengawasi dalam pembangunan.

“Saya sudah menghimbau kepada SKPD agar dalam pelaksanaan pembangunan melibatkan unsur pemuda. Selain itu masyarakat harus ikut berperan aktif dan harus lebih dominan, karena dalam pembangunan karena masyarakat sebagai pengguna,“ungkapnya.

Sebagai anggota Dewan, ia mempunyai keinginan agar rakyat dapat memberikan masukan. Sehingga dalam melaksanakan tugas sebagai anggota Dewan bisa berjalan dengan baik. “Dengan masukan dari masyarakat, kami akan tau apa yang dibutuhkan, meskipun harus tetap melihat skala prioritasnya,’katanya.

Dalam konteks pelaksanaan pembangunan, Kelik menandaskan bahwa harus mengacu pada RPJMD, karena  RPJMD itu kitab pembangunan di Purworejo. “Saya berharap masing-masing melaksanakan tugas sesuai tupoksinya agar nantinya pembangunan di Purworejo dapat berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Kelik Susilo Ardani SE yang menamatkan pendidikan di STIE Kerja Sama Yogyakarta mempunyai motto “Hidup Penuh Pengabdian”.  Pengalaman ddalam berorganisasi tak perlu diragukan lagi, terlihat dari sejumlah jabatan yang dipegangnya. Yaitu pengurus AMPI Desa Tamansari, Wakil Ketua Partai Golkar Kecamatan Butuh dari 2005 sampai sekarang, Ketua AMPG Kecamatan Butuh dari 2005 sampai sekarang.

Di tingkat kabupaten, ia menjabat sebagai Wakil Ketua AMPG Kabupaten Purworejo dari 2007 sampai sekarang, Wakil Ketua I KNPI Kabupaten Purworejo dari 2009-2013,  Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Purworejo dari tahun 2010 sampai sekarang, dan sebagai Ketua Harian Pengcab PSSI Purworejo.

Beberapa jabatan penting juga pernah dipegang antara lain pernah menjadi manajer administrasi dan keuangan PT Erida Kharisma Indonesia, Direktur CV Pandega Adyutamas  dan pernah menjadi pengurus harian yayasan Annur Munawarman Yogyakarta.

Sedangkan diklat yang pernah dia ikuti yaitu Diklat Education Development, Diklat Targati di Korem 072 Pamungkas, Diklat Pemuda dan Ormas di Semarang, Diklat Wirausaha di semarang dan Diklat kader Partai Golkar di Purworejo.

sumber : www.purworejokab.go.id

Pande Besi Suren Study Banding Ke Klaten

Untuk mempelajari teknik-teknik pande besi serta pengelolaan kelompok pande besi, 29 perajin pande besi dari Desa Suren, melakukan study banding ke Desa Bonyokan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten, pekan lalu. Mereka didampingi sejumlah perangkat desa Suren dan dari Diperindagkop Kabupaten Purworejo.

Kepala Bidang Perindustrian Pertambangan dan Energi Diperindagkop Ir Subagiyo  Msi mengungkapkan, dipilihnya Klaten dipilih sebagai tujuan study banding karena pandai besi merupakan salah satu unggulan di Kabupaten Klaten. Selain itu, di Desa Bonyokan,  kelompok Pande Besi sudah berkembang. Mereka sudah membentuk koperasi yang dinamakan Koperasi Delapanbelas (Derap laju pande besi dan las).
“Kita berharap agar kedua kelompok ini bisa berlanjut kerjasamanya, bisa dalam hal bahan baku, pemasaran ataupun kelembagaannya,”katanya.

Perajin Pande Besi Desa Suren yang dipimpin oleh Rambat ,diterima oleh Koperasi Delapanbelas yang diwakili Supriyanto selaku ketua 2. Terjadi diskusi dan saling tukar pendapat diantara dua kelompok ini. Selain itu, para perajin juga diperlihatkan proses pande besi di Desa Bonyokan tersebut. Antusiasme yang tinggi terlihat dari rombongan, mereka tidak segan-segan menanyakan proses-proses yang dilakukan.